Kamis, 06 Juni 2013

JURNAL


ANALISIS BIAYA LABA VOLUME
SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA
PADA HOME INDUSTRI ARYO COLLECTION
                                          

ABSTRAK

Analisis cost, profit and volume (biaya, laba dan volume) adalah suatu analisis untuk mengetahui hubungan antara biaya, volume penjualan, laba dan bauran produk untuk mencapai tingkat laba yang diinginkan. Parameter yang digunakan dalam analisis CPV adalah analisis break even point (BEP), margin of safety (MOS), degree of operating leverage (DOL) dan shut down point (SDP). Berdasarkan hasil penelitian penulis pada Home Industri Aryo Collection, perusahaan akan mengalami impas apabila penjualan mencapai tingkat 1.264 unit dengan komposisi 590 unit untuk celana jeans pria dan 674 unit untuk celana jeans wanita dengan total penjualan Rp. 66.160.190, sedangkan bila perusahaan merencanakan laba sebesar Rp.25.000.000 maka tingkat penjualan yang harus dicapai perusahaan sebanyak 3.456 unit dengan komposisi 1.613 unit untuk celana jeans pria dan 1.843 unit untuk celana jeans wanita.

Kata Kunci : Cost Profit Volume, Home Industri Aryo Collection
                   

PENDAHULUAN


Home industri atau industri rumahan merupakan salah satu jenis bisnis yang banyak menjadi pilihan banyak orang. Bisnis yang dilakukan atau dikelola di rumah ini selain mudah didirikan juga mempunyai peluang usaha yang cukup bagus. Tidak sedikit orang-orang yang awalnya berdiri dibidang bisnis rumahan menjadi besar dan produknya mampu bersaing dipasar dalam maupun luar negeri.
Selain memberikan keuntungan, peluang usaha yang cukup bagus juga dapat menjadi hambatan bagi para produsen industri rumahan. Hal ini membuat semakin pesatnya pertumbuhan industri rumahan yang mengakibatkan semakin tingginya tingkat persaingan. Banyak industri rumahan yang berdiri harus siap menghadapi kompetisi global, seperti banyaknya perusahaan maupun industri-industri kecil yang mulai bermunculan, dan masuknya teknologi yang semakin canggih serta tuntutan konsumen yang semakin kritis dan selektif dalam memilih produk yang diinginkan. Selain itu di era perdagangan bebas ini banyak barang-barang dari luar negeri dapat dengan mudah masuk kedalam pasar dalam negeri, sehingga produk dalam negeri harus siap bersaing dengan produk luar negeri.
Banyaknya hambatan ini yang membuat perlunya kesigapan para produsen untuk mempertahankan kelangsungan usahanya. Para produsen harus pandai dalam mengatur strategi agar usaha yang dijalankannya tidak mengalami kebangkrutan. Perencanaan produksi yang baik akan memberikan pengaruh yang besar bagi usaha industri rumahan ini dalam mendapatkan laba.Laba terutama dipengaruhi oleh tiga faktor : volume produk yang dijual, harga jual produk dan biaya.
Biaya menentukan harga jual untuk mencapai tingkat laba yang dikehendaki. Harga jual mempengaruhi volume penjualan, volume penjualan langsung mempengaruhi volume produksi, dan volume produksi mempengaruhi biaya. Hubungan antara biaya, volume, dan laba sangat penting dalam perencanaan jangka pendek yang diperlukan oleh produsen untuk menilai berbagai kemungkinan yang berakibat laba yang akan datang.
Melalui analisis biaya laba volume (analisis Cost Profit Volume) inilah, produsen diharapkan dapat menggambarkan tingkat perencanaan laba dalam sebuah kegiatan usahanya. Metode CPVdapat dilakukan untuk menganalisis hubungan antara biaya, volume produksi, harga jual dan laba sehingga dapat dihasilkan informasi berbagai tingkat volume produk pada setiap jenis produksi suatu hubungan dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan tertentu.
                          

TINJAUAN PUSTAKA

Analisis cost, profit and volume (CPV) merupakan alat analisis bagi manajemen tentang hubungan antara biaya, laba dan volume. Dengan melakukan analisis CPV dapat diketahui hubungan antara perubahan volume penjualan dan perubahan terhadap harga jual dan jumlah biaya (biaya tetap dan variabel). Jadi, manajemen dapat menentukan volume penjualan dan bauran produk yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat laba yang diharapkan dengan sumber daya yang dimiliki.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas. Berikut ini beberapa pendapat mengenai definisi analisis CPV :
“Analisis cost, profit and volume (biaya, laba dan volume) adalah suatu analisis untuk mengetahui hubungan antara biaya, volume penjualan, laba dan bauran produk untuk mencapai tingkat laba yang diinginkan”. (Bastian Bustami&Nurlela, 2005 : 207)
 Analisis CPV merupakan suatu metode estimasi bagaimana perubahan variabel-variabel berikut akan mempengaruhi laba : biaya variabel per unit, harga jual per unit, jumlah biaya tetap per periode, volume penjualan, dan bauran penjualan”. (Hendri simamora,2002 : 177)
Menurut Mulyadi (2001 : 272) “analisis CPV menghasilkan informasi dampak perubahan harga jual, biaya, dan volume penjualan terhadap laba bersih”. Analisis CPV juga digunakan dalam pemilihan alternatif tindakan dan perumusan kebijaksanaan untuk masa yang akan datang, untuk menilai berbagai macam kemungkinan yang berakibat terhadap laba yang akan datang. Parameter yang digunakan dalam analisisCPV adalah sebagai berikut : Break Even Point (BEP), Margin of safety (MOS), Degree of operating leverage (DOL), Shut down point (SDP).

Analisis Break Even Point
            Menurut Bastian Bustami dan Nurlela(2005 : 208) “analisis break event point (analisis titik impas) adalah suatu cara atau teknik yang digunakan untuk mengetahui pada volume (jumlah) penjualan dan volume produksi berapakah suatu perusahaan yang bersangkutan tidak menderita kerugian dan tidak pula memperoleh laba.
            Sedangkan menurut Mulyadi (2001 : 232) “analisis break even point adalah suatu keadaan usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi”.Dengan kata lain, suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan (revenues) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya digunakan untuk menutup biaya tetap saja. Analisis break evenadalah suatu cara untuk mengetahui volume penjualan minimum agar suatu usaha tidak menderita rugi, tetapi juga belum memperoleh laba (dengan kata lain labanya sama dengan nol). (Mulyadi,2001 : 232)
Ketika perusahaan memproduksi lebih dari satu produk, maka penjualan dan biaya variabel juga dapat berbeda untuk produk yang berbeda. Dalam kasus semacam itu, rasio margin kontribusi menjadi berbeda untuk bauran produk yang berbeda dan dengan demikian titik impas dan tingkat penjualan yang dibutuhkan untuk mencapai target laba adalah berbeda untuk bauran produk yang berbeda. Perhitungan dalam situasi multiproduk intinya sama dengan perhitungan dalam kasus produk tunggal.

Analisis Margin Of Safety
            Batas keamanan (Margin Of Safety) merupakan hasil penjualan pada tingkat titik impas dihubungkan dengan penjualan yang dianggarkan atau penjualan pada tingkat tertentu, maka akan di dapat informasi tentang seberapa jauh volume penjualan boleh turun sehingga perusahaan tidak menderita kerugian. Jadi batas keamanan adalah seberapa jauh penjualan perusahaan tersebut boleh turun sehingga tidak mengalami kerugian. Batas keamanan dinyatakan dalam persentase dari penjualan yang disebut Rasio Batas Keamanan (Margin Of Safety-M/S).
            Menurut Mulyadi (2000 : 253) “margin of safety adalah selisih antara penjualan yang ditargetkan denganjumlah pendapatan pada keadaan titik impas”. Angka margin of safety memberikan informasi berapa maksimal volume penjualan yang direncanakan tersebut boleh turun, agar perusahan tidak menderita kerugian.

Analisis Degree of Operating Leverage (Ray H Garrison, 2002 : 276)
            Tuasan Operasi (Operating Leverage) adalah ukuran sensivitas laba bersih terhadap persentasi perubahan penjualan. Jika operating leverage tinggi, persentase kecil peningkatan penjualan dapat menghasilkan persentase yang lebih besar peningkatan laba. Tingkat operating leverage adalah ukuran bagaimana pengaruh perubahan volume penjualan terhadap laba. Tingkat operating leverage mencapai titik tertinggi pada tingkat penjualan mendekati titik impas dan akan menurun pada saat penjualan dan laba meningkat. Manajer dapat menggunakan tingkat operating leverage untuk memperkirakan secara tepat apakah dampak perubahan penjualan terhadap laba tanpa harus membuat laporan laba rugi secara rinci.

Analisis Shut Down Point
            Analisis Shut Down Point merupakan titik pada tingkat penjualan berapa usaha perusahaan secara ekonomis tidak pantas untuk dilanjutkan.Manajemen memerlukan infomasi pada pendapatan penjualan berupausaha perusahaan secara ekonomis tidak pantas untuk dilanjutkan jika pendapatan penjualannya tidak mencukupi untuk menutupi biaya tetap tunainya. Untuk menjawab pertanyaan ini, manajemen memerlukan informasi titik penutupan usaha (Shut Down Point). (Mulyadi,2001 : 229)
            “Biaya tetap tunai adalah biaya-biaya yang memerlukan pembayaran segera dengan uang kas, seperti sewa gedung, gaji pegawai tetap dan sebagainya”. (Mulyadi,2001 : 256)

Laba (Mulyadi, 2000 : 263)
Laba atau keuntungan dapat didefinisikan dengan dua cara, yang pertama laba dalam ilmu ekonomi murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan seorang investor sebagai hasil penanam modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan penanaman modal tersebut. Sementara itu, laba dalam akuntansi didefinisikan sebagai selisih antara harga penjualan dengan biaya produksi. Perbedaan di antara keduanya adalah dalam hal pendefinisian biaya. Anggaran perencanaan laba perusahaan dapat efektif apabila manajemen dapat memperkirakan dampak perubahan masing-masing faktor tersebut terhadap laba bersih, impas. Faktor yang mempengaruhi laba tersebut adalah sebagai berikut: (1) Harga jual produk, semakin tinggi harga jual produk semakin besar pula laba yang akan diperoleh dengan asumsi biaya dan volume penjualan tidak mengalami perubahan. (2) Biaya, semakin besar biaya yang dikeluarkan pada suatu perusahaan, maka akan semakin kecil laba yang akan diperoleh sebagai asumsi harga jual dan volume penjualan tidak mengalami perubahan. (3) Volume penjualan, semakin besar volume penjualan, maka akan semakin besar pula laba yang akan diperoleh.
                 

Metode Penelitian

Metode pengumpulan data harus dilakukan dengan beberapa metode guna memperoleh informasi yang objektif. Data dikumpulkan melalui wawancara (interview) dengan pemilik dari Home Industri Aryo Collection. Data yang diteliti adalah volume penjualan, harga jual produk, dan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk selama bulan Maret 2012.

Alat Analisis Yang Digunakan
            Alat analisis yang digunakan dalam penulisan ini adalah analisis deskriptif dan analisis kuantitatif. Analisis deskriptif adalah menggambarkan kembali atau mendeskripsikan data yang diperoleh dengan menggunaan tabel dan grafik agar penulis dan pembaca mudah mengartikan data tersebut. Sedangkan analisis kuantitatif adalah pengolahan data yang dinyatakan dalam bentuk angka. Dalam penulisankarya ilmiah ini, penulis menggunakan penganalisaan dengan menggunakan metode break even point, margin of safety, degree of operating leverage dan shut down point


PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini, jumlah produksi celana jeans model standart yang dihasilkan oleh home industry Aryo Collection pada bulan Maret 2012 adalah 3000 potong dengan komposisi produksinya adalah 1400 potong celana jeans pria dan 1600 potong celana jeans wanita. Untuk menganalisis biaya laba volume, terlebih dahulu akan digolongkan biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan kedalam biaya tetap dan biaya variabel. Untuk kemudian dihitung besarnya Break Even Point (BEP) beserta pembuktiannya, Margin of Safety (MOS), Degree of Operating Leverage (DOL), Shut Down Point (SDP), dan besarnya laba sasaran.

Tabel 4.1
Volume Produksi dan Harga Jual
Keterangan
Celana Jeans
Pria
Celana Jeans
Wanita
Jumlah
Volume Produksi
1400
1600
3000
Harga Jual
Rp 55.000
Rp 50.000


Rp   77.000.000
Rp   80.000.000



Tabel 4.2
Rincian Biaya Tetap, Biaya Variabel
No
Keterangan
Biaya Tetap
Biaya Variabel
1
Biaya Depresiasi Mesin
Rp    1.657.500

2
Biaya Sewa Gedung
Rp       650.000

3
Biaya Tenaga Kerja
Rp  12.050.000

4
Biaya Bahan Baku

Rp 103.450.000
5
Biaya Bahan Penolong

Rp   18.575.000
6
Biaya Telepon

Rp        100.000
7
Biaya Listrik
Rp         65.000
Rp        650.000
JUMLAH
Rp 14.422.500
Rp 122.775.000


Analisis Biaya Laba Volume

Perhitungan Break Even Point
a.       Perhitungan margin kontribusi
1. Margin kontribusi celana jeans pria                = Rp 55.000 – Rp 40.925
                                                                           = Rp 14.075
2. Margin kontribusi celana jeans wanita           = Rp 50.000 – Rp 40.925
                                                                     = Rp 9.075

b.      Perhitungan proporsi untuk setiap produk
1. Proporsi celana jeans pria          = 1400 / 3000 = 47%
2. Proporsi celana jeans wanita     = 1600 / 3000 = 53%

c.       Perhitungan BEP multiproduk

















atau masing-masing terjual sebanyak :
1. Celana Jeans Pria       = 47% x 1264 unit = 589,963477 unit = 590 Unit
2. Celana Jeans Wanita  = 53% x 1264 unit = 674,2439737unit = 674 Unit




















Atau dapat dihitung dengan cara :
1. Celana Jeans Pria       = Rp 55.000 x 590 unit =             Rp 32.447.991
2. Celana Jeans Wanita  = Rp 50.000 x 674 unit =             Rp 33.712.199
                                                                                          Rp 66.160.190


d.      Metode Grafik




















Gambar 4.1
Grafik BEP Home Industri Aryo Collection


Perhitungan Margin Of Safety















Perhitungan Degree of Operating Leverage
                   












Perhitungan Shut Down Point
                          




















Laba Bersih Sasaran
            Pada produksi bulan April 2012, perusahaan merencanakan laba sebesar Rp 25.000.000. Berikut perhitungannya :


          







  Dengan proporsi penjualannya yaitu 47% untuk pria dan 53% untuk wanita maka :
Pria         = 47% x 3.456 = 1.613 unit x Rp 55.000 = Rp    88.693.426
Wanita    = 53% x 3.456 = 1.843 unit x Rp 50.000 = Rp    92.149.014
                                                                                  Rp  180.842.440 (dibulatkan)

               Setelah perhitungan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa apabila perusahaaan merencanakan laba sebesar Rp 25.000.000 maka kuantitas penjualan harus mencapai tingkat 3.456 unit dengan komposisinya adalah 1.613unit untuk celana jeans pria dan 1.843 unit untuk celana jeans wanita dengan total rupiah penjualan sebesar Rp 180.842.440.











PENUTUP

Kesimpulan
Home Industri Aryo Collection untuk bulan Maret 2012 akan berada pada titik impas saat volume penjualan sebesar 1.264 unit dengan komposisi 590 unit untuk celana jeans pria dan 674 unit untuk celana jeans wanita. Sedangkan pendapatan penjualannya akan berada pada titik impas sebesar Rp 66.160.190 dengan komposisi Rp 32.447.991 untuk celana jeans pria dan Rp 33.712.199 untuk celana jeans wanita. Dalam penjualan ternyata perusahaan dapat terjadi penurunan volume penjualan, namun dalam hal ini Home Industri Aryo Collection hanya dapat melakukan penurunan penjualan sampai titik penjualan sebesar Rp 90.839.810 atau sebanyak 58% agar tidak mengalami kerugian. Sedangkan perbandingan perubahan penjualan terhadap laba bersih sebanyak 2 kali. Jika perusahaan ingin memperoleh laba, volume penjualan dan pendapatan perusahaan harus melebihi dari titik impas dan posisi penjualan harus lebih besar dari nilai Shut Down Point yang besarnya, yaitu Rp 58.556.757 atau sebanyak 1.119 unit.
Jika perusahaan ingin memperoleh laba bersih sebesar Rp 25.000.000 pada bulan April 2012, maka perusahaan harus menjual produknya sebanyak 3.456 unit dengan komposisinya adalah 1.613 unit untuk celana jeans pria dan 1.843 unit untuk celana jeans wanita. Sedangkan pendapatan penjualannya sebesar Rp180.842.440 dengan komposisi Rp 88.693.426 untuk celana jeans pria dan Rp 92.149.014 untuk celana jeans wanita.

Saran
Home Industri Aryo Collection sebaiknya pada periode yang akan dating dapat bertahan pada tingkat penjualan yang telah ditetapkan. Selain itu Aryo Collection sebaiknya juga menggunakan perhitungan analisis biaya laba volume agar perusahaan lebih tepat dalam pengambilan keputusan jangka pendek.


DAFTAR PUSTAKA

Bambang Riyanto. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi 4. BPFE-YOGYAKARTA. Yogyakarta : 2008.

Bastian Bustami dan Nurlela. Akuntansi Biaya Tingkat Lanjut : Kajian Teori dan Aplikasi. Graha Ilmu. Bandung : 2005.

Bastian Bustami dan Nurlela. Akuntansi Biaya Teori dan Aplikasi. Graha Ilmu. Bandung : 2006.

Gorrison, Ray H. Akuntansi Manajerial. Salemba Empat. Jakarta : 2002.

Hendri Simamora. Akuntansi Manajemen. Edisi 2.Salemba Empat. Jakarta : 2002.

Mulyadi. Akuntansi Biaya. Edisi 5. STIE YKPN. Yogyakarta : 2000. 

Mulyadi. Akuntansi Manajemen : Konsep, Manfaat dan Rekayasa. Edisi 3. Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Tinggi. Yogyakarta : 2001.